Headlines

Ujang Supriatin Soroti Perlindungan Pekerja Digital di Konferensi ILO ke-114, Indonesia Dorong Standar Global yang Berkeadilan

WhatsApp Image 2026 06 10 at 8.06.42 AM

SUKABUMI – JAGAT BATARA. Memasuki hari ke-8 pelaksanaan International Labour Conference (ILC) Session ke-114 di Jenewa, Swiss, Senin (8/6/2026), delegasi Indonesia terus menunjukkan peran aktif dalam berbagai pembahasan strategis terkait ketenagakerjaan global. Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah perlindungan pekerja platform ekonomi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Delegasi Indonesia yang terdiri dari unsur tripartit pemerintah, pekerja, dan pengusaha tampil kompak dalam sidang pleno yang berlangsung di Gedung Tempus, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seluruh delegasi mengenakan batik sebagai identitas budaya nasional sekaligus simbol diplomasi lunak Indonesia di hadapan perwakilan dari 187 negara anggota Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Kekompakan delegasi tripartit Indonesia dinilai menjadi representasi kuat dari semangat dialog sosial yang selama ini dikedepankan dalam penyelesaian berbagai persoalan ketenagakerjaan.

“Batik adalah simbol. Namun yang lebih penting adalah pesan yang dibawa Indonesia, yakni memperjuangkan pekerjaan layak dan perlindungan yang adil bagi seluruh pekerja,” ungkap salah satu sumber delegasi Indonesia di sela-sela konferensi.

Dalam forum tersebut, Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, menegaskan bahwa Indonesia mendukung transformasi digital, namun menolak praktik yang berpotensi merugikan pekerja, khususnya mereka yang bekerja di sektor platform digital seperti pengemudi ojek online, kurir, hingga pekerja lepas berbasis aplikasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus tetap menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar objek yang dikendalikan algoritma.

“Indonesia berkomitmen mengembangkan kebijakan yang melindungi pekerja di sektor platform ekonomi digital. Namun kami menolak pendekatan sepihak. Dialog sosial tripartit tetap menjadi kunci,” tegas Yassierli dalam forum tersebut.

Ujang Supriatin Algoritma Tidak Boleh Menghilangkan Hak Pekerja

Salah satu delegasi Indonesia asal Sukabumi, Ujang Supriatin, turut menyuarakan pentingnya perlindungan pekerja di era digital. Ia menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi AI dan algoritma yang dapat digunakan perusahaan untuk mengambil keputusan tanpa transparansi, termasuk dalam penentuan pendapatan maupun pemutusan hubungan kerja.

Menurut Ujang, penggunaan algoritma tidak boleh menghilangkan aspek kemanusiaan dalam hubungan kerja.

“Algoritma boleh membantu, tetapi manusia harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab. Pekerja platform digital bukan robot. Mereka membutuhkan kepastian upah, jaminan sosial, dan ruang untuk menyampaikan aspirasi,” ujar Ujang Supriatin.

Pernyataan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang saat ini memiliki jutaan pekerja platform digital yang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional.

Karena itu, delegasi Indonesia mendorong ILO untuk menyusun standar global baru yang dapat menjadi acuan bagi negara-negara anggota dalam merumuskan regulasi yang mampu melindungi pekerja tanpa menghambat inovasi teknologi.

Indonesia Tawarkan Solusi Penguatan SDM

Selain isu perlindungan pekerja digital, Indonesia juga memperkenalkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.

Menteri Ketenagakerjaan menyampaikan paket kebijakan yang mencakup penguatan program pemagangan nasional, peningkatan pendidikan vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri, serta pengembangan kompetensi di sektor industri 4.0 dan ekonomi hijau (green economy).

“Transformasi digital harus meningkatkan produktivitas, namun tujuan akhirnya tetap kesejahteraan pekerja. Karena itu, sumber daya manusia menjadi investasi utama yang harus diprioritaskan,” jelas Yassierli.

Delegasi Indonesia juga menekankan pentingnya memastikan hasil-hasil pembahasan di forum internasional dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan langsung oleh pekerja di lapangan.

Sinergi Tripartit hingga Daerah

Dalam berbagai sesi pembahasan, delegasi Indonesia menilai bahwa sinergi antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha tidak boleh berhenti di tingkat nasional. Kolaborasi tersebut harus diperkuat hingga tingkat daerah guna menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan berkelanjutan.

Pendekatan dialog sosial yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia dinilai mampu menjadi model dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan global yang semakin kompleks.

Selain membahas isu AI dan ekonomi digital, Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap berbagai program darurat ILO untuk pekerja terdampak konflik kemanusiaan, termasuk di Palestina.

Indonesia Tampil Sebagai Penengah

Secara keseluruhan, pada hari ke-8 ILC Session 114, Indonesia tampil sebagai salah satu negara yang mengedepankan pendekatan moderat dan solutif. Dalam isu kecerdasan buatan, Indonesia mendukung inovasi namun menolak dehumanisasi pekerja. Dalam isu global, Indonesia mendorong solidaritas kemanusiaan. Sementara dalam kebijakan ketenagakerjaan, Indonesia tetap menempatkan dialog sosial sebagai instrumen utama penyelesaian masalah.

Dengan semangat “Merah Putih di Dada, Indonesia di Hati”, delegasi tripartit Indonesia menutup rangkaian agenda hari ke-8 konferensi dengan pesan yang kuat kepada komunitas internasional: Indonesia hadir, Indonesia menawarkan solusi, dan Indonesia berkomitmen menjaga hak serta kesejahteraan pekerja di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.

Sukma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *