Sukabumi – JAGAT BATARA. Dunia peternakan internasional baru-baru ini dikejutkan oleh kebijakan ketat Pemerintah Arab Saudi yang menolak impor unggas dari 40 negara akibat kekhawatiran penyebaran virus Avian Influenza (AI) atau flu burung. Kebijakan tersebut memicu kegaduhan di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Sukabumi, yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil unggas terbesar di Jawa Barat.
Menanggapi keresahan masyarakat dan pelaku usaha ternak, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, drh. Asep Kurnadi, memberikan pernyataan resmi pada Jumat (27/02/2026). Ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan unggas di wilayah Kabupaten Sukabumi berada dalam status hijau dan sangat aman.
Tidak Ada Kasus Sejak 2016
Dalam keterangannya, drh. Asep Kurnadi memastikan bahwa isu penolakan impor oleh Arab Saudi tidak berkaitan secara spesifik dengan status kesehatan hewan di Kabupaten Sukabumi. Ia menegaskan bahwa sistem pencegahan di daerah tersebut telah teruji selama hampir satu dekade.
“Sebagai informasi, kasus flu burung di Kabupaten Sukabumi terakhir terjadi di tahun 2016. Sampai saat ini, Alhamdulillah, semuanya terkendali,” ujarnya optimistis di hadapan awak media.
Ia menjelaskan, keberhasilan mempertahankan status bebas flu burung bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja kolektif antara pemerintah daerah, tenaga medis hewan, dan para peternak yang disiplin menerapkan standar kesehatan ternak. Meski dinamika global menunjukkan adanya ancaman wabah di sejumlah negara, sistem pertahanan biologis di Sukabumi dinilai tetap kokoh.
Tiga Pilar Strategis Pengendalian AI
Untuk menjaga status bebas flu burung selama 10 tahun terakhir, Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi secara konsisten menjalankan tiga langkah utama.
1. Surveilans Rutin di Sentra Pengembangan Unggas
Tim medis hewan secara berkala melakukan kunjungan ke peternakan besar maupun peternakan rakyat. Mereka mengambil sampel serta melakukan observasi fisik sebagai langkah deteksi dini.
“Kami melakukan surveilans secara rutin untuk mendeteksi secara dini terkait penyakit hewan, terutama pada unggas. Hal ini memudahkan kami melakukan tindakan pencegahan sebelum virus sempat menyebar,” jelas drh. Asep.
2. Edukasi Biosecurity Ketat bagi Peternak
Sanitasi lingkungan menjadi fokus utama dalam pencegahan AI. Para peternak diberikan pemahaman mengenai pembatasan akses keluar-masuk kandang, penyemprotan disinfektan pada kendaraan pengangkut pakan, serta pengelolaan limbah ternak yang benar.
“Kami terus memberikan pemahaman kepada peternak bahwa biosecurity adalah benteng pertama. Jika benteng ini kuat, penularan penyakit dari luar bisa kita minimalisir hingga titik nol,” tambahnya.
3. Sosialisasi dan Sistem Pelaporan Cepat
Dinas Peternakan juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait gejala klinis flu burung, seperti kematian mendadak dalam jumlah banyak atau perubahan fisik pada unggas.
“Sosialisasi terkait AI terus kami gencarkan supaya masyarakat bisa segera melakukan pelaporan apabila menemukan gejala mencurigakan pada unggasnya. Kecepatan lapor adalah kunci keberhasilan penanganan,” tegasnya.
Respon Peternak di Lapangan
Kebijakan Arab Saudi sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak. Namun, klarifikasi dari Dinas Peternakan memberikan rasa tenang.
Pak Jaka (nama samaran), peternak ayam petelur di kawasan Cicurug, mengaku sempat khawatir harga pasar turun akibat isu tersebut.
“Awalnya kami takut kalau isu flu burung ini bikin warga takut beli ayam atau telur. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Kadis bahwa Sukabumi sudah bersih sejak 2016, kami jadi lebih tenang. Selama ini memang petugas dari dinas sering datang ngecek kandang kami, jadi kami merasa terlindungi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ibu Sari (nama samaran), peternak unggas rakyat di wilayah Jampang. Ia menyatakan dukungannya terhadap program pemerintah.
“Kami di kampung-kampung ini yang paling takut kalau ada wabah. Tapi alhamdulillah, penyuluhan soal kebersihan kandang (biosecurity) dari dinas sangat membantu. Kami sekarang lebih paham kalau masuk kandang harus ganti alas kaki dan cuci tangan. Kami harap pemerintah terus mendampingi kami agar Sukabumi tetap aman dari penyakit,” katanya.
Konteks Global dan Fokus Lokal
Penolakan impor oleh Arab Saudi merupakan langkah standar dalam protokol perdagangan internasional guna melindungi ketahanan pangan nasional mereka. Indonesia melalui Kementerian Pertanian terus melakukan lobi dan pembuktian melalui data compartment bebas AI pada perusahaan eksportir besar.
Bagi Kabupaten Sukabumi, fokus utama saat ini adalah menjamin ketersediaan protein hewani yang sehat untuk konsumsi lokal dan nasional. Dengan status bebas AI sejak 2016, produk unggas dari Sukabumi dinilai memiliki daya saing tinggi karena terjamin kesehatannya.
Imbauan untuk Tetap Tenang
Menutup pernyataannya, drh. Asep Kurnadi mengimbau masyarakat, pedagang, hingga konsumen rumah tangga untuk tidak panik.
“Jangan termakan isu yang tidak jelas sumbernya. Kami menjamin bahwa unggas di Kabupaten Sukabumi melalui proses pengawasan yang ketat. Mari kita jaga bersama prestasi ‘bebas AI’ ini dengan tetap melaporkan setiap kejadian mencurigakan kepada petugas di lapangan,” pungkasnya.
Tips bagi Konsumen
Masyarakat tidak perlu menghentikan konsumsi produk unggas seperti daging ayam, bebek, maupun telur. Produk dari peternakan lokal Sukabumi dipastikan aman selama dimasak dengan benar. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memilih daging unggas yang terlihat segar dan tidak berbau menyengat.
- Memasak daging dan telur hingga matang sempurna (suhu internal minimal 70°C).
- Mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh unggas mentah.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah melalui Dinas Peternakan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan, Kabupaten Sukabumi optimistis dapat terus mempertahankan status bebas flu burung meski tantangan global terus berganti.
MP
