Sumpah Pemuda, Semangat Persatuan yang Terus Hidup dalam Dunia Pendidikan

WhatsApp Image 2026 10 28 at 8.37.25 AM

SUKABUMI — JAGAT BATARA. Ketua Pengurus Cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PC PGRI) Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Husen, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026. Momentum bersejarah ini menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan, memperkuat semangat kebangsaan, serta menyiapkan generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan berdaya saing.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, peristiwa bersejarah ini mengandung pesan mendalam tentang arti persatuan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Bagi dunia pendidikan, nilai-nilai Sumpah Pemuda memiliki relevansi yang kuat. Guru tidak hanya berperan menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing peserta didik agar memiliki karakter kebangsaan, menghargai perbedaan, serta memahami pentingnya tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Husen menyampaikan ucapan selamat Hari Sumpah Pemuda kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi muda dan insan pendidikan di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Menurutnya, peringatan ini menjadi momentum untuk kembali meneguhkan semangat persatuan dan menumbuhkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa membutuhkan peran seluruh elemen masyarakat, termasuk guru dan peserta didik.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 8.37.06 AMa

Menelusuri Sejarah Lahirnya Sumpah Pemuda

Secara historis, Sumpah Pemuda lahir dari semangat para pemuda Indonesia yang berjuang melampaui sekat-sekat kedaerahan demi mewujudkan cita-cita bersama, yakni Indonesia yang bersatu dan merdeka.

Peristiwa tersebut berawal dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Kongres ini mempertemukan berbagai organisasi pemuda dari beragam latar belakang untuk membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan nasional.

Puncak kongres pada 28 Oktober 1928 melahirkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Ikrar tersebut menegaskan tiga komitmen utama: bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia; berbangsa satu, Bangsa Indonesia; serta menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Lahirnya Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam perjalanan pergerakan nasional. Para pemuda kala itu menyadari bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang dapat disatukan melalui cita-cita bersama.

Semangat tersebut turut memperkuat fondasi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia yang akhirnya diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Guru dan Generasi Muda, Penjaga Nilai Persatuan

Dalam konteks masa kini, semangat Sumpah Pemuda menghadapi tantangan yang berbeda. Perkembangan teknologi digital dan arus informasi yang begitu cepat memberikan peluang bagi generasi muda untuk berkembang, tetapi juga menuntut kecakapan dalam menyaring informasi, menghormati perbedaan pendapat, serta menghindari penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian.

Di sinilah peran pendidikan menjadi semakin penting. Sekolah perlu menjadi ruang tumbuhnya sikap toleran, gotong royong, disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap tanah air.

Guru memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran, keteladanan, serta pembiasaan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, makna Sumpah Pemuda tidak berhenti pada hafalan sejarah, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 8.37.06 AM

Bagi para pemuda, semangat persatuan dapat diterapkan melalui prestasi, kreativitas, kepedulian sosial, serta pemanfaatan teknologi secara bijak dan produktif. Perbedaan latar belakang seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk saling menjauh.

Menjaga Api Sumpah Pemuda untuk Masa Depan Bangsa

Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan kembali kontribusi masing-masing dalam membangun Indonesia. Persatuan harus dirawat melalui tindakan nyata, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi keluarga besar PGRI Kecamatan Kabandungan, semangat Sumpah Pemuda juga menjadi pengingat akan pentingnya memperkuat komitmen terhadap pendidikan yang berkualitas dan pembentukan karakter generasi penerus.

Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh karakter, persatuan, dan kepedulian generasi mudanya.

Semangat yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928 hendaknya terus hidup dalam setiap langkah pembangunan. Dengan persatuan, pendidikan yang bermutu, dan semangat gotong royong, cita-cita untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan berkeadilan dapat terus diperjuangkan bersama.

Nurdiyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *