Sukabumi — JAGATA BATARA. Semangat Gerakan Pramuka di Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, kembali menggeliat. Sebanyak 1.456 peserta didik bersama 171 pembina mengikuti kegiatan Jambore Ranting dan Lomba Tingkat II dalam rangka memperingati HUT ke-65 Gerakan Pramuka.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026, tersebut dipusatkan di Bumi Perkemahan Kitri Nusantara, Kampung Kuta, Desa Margaluyu, Kecamatan Purabaya.
Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan yang berada dalam naungan Kwartir Ranting (Kwaran) Purabaya. Mereka berasal dari 32 sekolah tingkat sekolah dasar, 11 sekolah tingkat SLTP, serta 6 sekolah tingkat SLTA.
Dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 1.400 orang, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni memperingati HUT Gerakan Pramuka. Di balik aktivitas perkemahan dan berbagai perlombaan, terdapat proses pendidikan karakter yang diarahkan untuk membentuk generasi muda agar memiliki mental kuat, mandiri, disiplin, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Ajang Silaturahmi Sekaligus Seleksi
Ketua Kwartir Ranting Pramuka Kecamatan Purabaya, H. Asep Budiyansyah, S.Hum., M.Pd., MT, mengatakan Jambore Ranting dan Lomba Tingkat II merupakan agenda rutin yang memiliki sejumlah fungsi penting dalam proses pembinaan anggota Pramuka.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang silaturahmi antarpeserta dan pembina dari berbagai sekolah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengukur kemampuan peserta sekaligus menyeleksi anggota yang memiliki potensi untuk mengikuti pembinaan pada tingkat berikutnya.
“Kegiatan rutin tahunan ini selain untuk ajang silaturahmi, juga untuk menyeleksi kegiatan Lomba Tingkat II,” ujar Asep.
Dalam konteks tugas dan fungsi Kwartir Ranting, Asep memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan pembinaan kepramukaan di tingkat kecamatan. Karena itu, kegiatan seperti Jambore Ranting dan Lomba Tingkat II menjadi bagian penting untuk memastikan pembinaan Pramuka tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlangsung secara berkelanjutan dan memiliki jenjang prestasi.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan anggota Pramuka yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan dan mental yang kuat.
Ketua Panitia: Target Utamanya Adalah Hasil Terbaik
Sementara itu, Ketua Panitia Nasep Saepul Hamdi, S.Pd.I, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan dengan penuh tanggung jawab agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi peserta.
Sebagai ketua panitia, tugasnya tidak sebatas mengatur teknis pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tertib, aman, terkoordinasi, serta mampu mencapai tujuan pembinaan yang telah ditetapkan.
Nasep berharap kegiatan tahunan tersebut dapat menghasilkan capaian terbaik, baik dari sisi pelaksanaan maupun perkembangan karakter dan keterampilan peserta.
“Kegiatan tahunan ini semoga dapat menghasilkan tujuan yang terbaik,” ungkapnya.
Harapan tersebut menjadi penting mengingat jumlah peserta yang mencapai ribuan orang membutuhkan manajemen kegiatan yang tidak sederhana.
Koordinasi antara panitia, pembina, sekolah, peserta, serta pihak terkait menjadi faktor penting agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman sekaligus memberikan pengalaman pendidikan yang positif bagi peserta.

Bukan Sekadar Berkemah, tetapi Membentuk Mental dan Kemandirian
Penekanan lebih jauh disampaikan Koordinator Kegiatan/Lapangan, Rusli Fahmi, S.Pd.I., M.G. Menurutnya, kegiatan Pramuka harus memberikan output yang nyata bagi perkembangan peserta didik.
Pengalaman selama tiga hari di bumi perkemahan diharapkan mampu memberikan pembelajaran langsung kepada anak-anak mengenai kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan berinteraksi dengan peserta dari sekolah lain.
“Acara tahunan ini bukan hanya seremonial. Output dari kegiatan ini supaya anak-anak bisa mengubah mental menjadi lebih mandiri, mengenal lingkungan dan sesama peserta dari sekolah lain, serta memperbaiki akhlak dan kepribadian,” tuturnya.
Rusli juga menyoroti aspek tanggung jawab moral panitia selama kegiatan berlangsung.
Para peserta merupakan anak-anak yang dititipkan oleh orang tua kepada pihak sekolah, pembina, dan panitia selama berada di lokasi perkemahan. Karena itu, faktor keselamatan, kedisiplinan, kesehatan, pengawasan, dan kenyamanan peserta menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan kegiatan.
“Selaku panitia, kami sangat bertanggung jawab selama tiga hari ini terhadap orang tua siswa yang sudah memberikan beban tanggung jawab kepada kami,” katanya.
Pemerintah Diharapkan Hadir Melalui Dukungan Fasilitas
Besarnya jumlah peserta dan luasnya manfaat pendidikan karakter yang diberikan melalui kegiatan Pramuka sekaligus membuka persoalan lain, yakni ketersediaan fasilitas pendukung kegiatan kepramukaan.
Kegiatan dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1.400 orang tentu membutuhkan sarana yang memadai. Kebutuhan tersebut mencakup fasilitas perkemahan, sanitasi, air bersih, tempat kegiatan, perlengkapan keselamatan, fasilitas kesehatan, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, diperlukan perhatian lebih besar dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan terkait, terhadap keberadaan bumi perkemahan dan fasilitas pembinaan Pramuka di wilayah Purabaya.
Dukungan tersebut idealnya tidak hanya diberikan ketika kegiatan besar berlangsung, tetapi juga melalui program pembinaan dan peningkatan fasilitas secara berkelanjutan.
Pemerintah memiliki ruang untuk bersinergi dengan Kwartir Ranting, sekolah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menghadirkan fasilitas kepramukaan yang layak.
Dengan demikian, bumi perkemahan tidak hanya menjadi tempat kegiatan tahunan, tetapi dapat berkembang menjadi pusat pendidikan karakter, kepemimpinan, keterampilan, dan kepedulian lingkungan bagi generasi muda.

Menjaga Pramuka Tetap Relevan di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan anak-anak dan remaja, pendidikan berbasis pengalaman seperti Pramuka memiliki posisi yang semakin penting.
Perkemahan memberikan kesempatan kepada peserta untuk keluar dari rutinitas sekolah dan lingkungan keluarga. Mereka belajar mengatur diri, menyelesaikan persoalan bersama, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, serta bertanggung jawab terhadap kelompok.
Dengan demikian, keberhasilan Jambore Ranting dan Lomba Tingkat II Purabaya seharusnya tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara dalam perlombaan.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang dibawa pulang oleh peserta setelah tiga hari mengikuti kegiatan tersebut.
Jika mereka pulang dengan mental yang lebih kuat, lebih mandiri, memiliki disiplin, mampu menghargai orang lain, dan semakin peduli terhadap lingkungan, maka tujuan pendidikan kepramukaan telah berjalan.
Kegiatan Jambore Ranting dan Lomba Tingkat II Purabaya pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali sinergi antara Kwartir Ranting, sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
Sinergi tersebut penting agar Gerakan Pramuka tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan benar-benar menjadi salah satu ruang strategis dalam membentuk generasi muda Kabupaten Sukabumi yang berkarakter, mandiri, berakhlak, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
(Sukma)
