Sukabumi – Jagat Batara. Terbentang langsung menghadap deburan ombak Samudra Hindia, Desa Loji yang terletak di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Berada di kawasan strategis pesisir selatan Sukabumi, desa ini tidak hanya menawarkan panorama alam yang memanjakan mata, tetapi juga menyimpan potensi investasi dan pengembangan ekonomi yang menjanjikan, khususnya di sektor pariwisata, kelautan, perikanan, hingga pertanian.
Sebagai salah satu pilar penopang kawasan pesisir Teluk Palabuhanratu, Desa Loji perlahan namun pasti bersiap menjadi salah satu destinasi unggulan yang memadukan pesona spiritualitas, kearifan lokal, dan geliat ekonomi bahari.
Salah satu daya tarik paling ikonik yang menjadi magnet wisatawan domestik hingga mancanegara adalah keberadaan Wihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa, atau yang lebih akrab dikenal masyarakat dengan sebutan Wihara Loji.
Berbeda dengan tempat ibadah pada umumnya, wihara ini dibangun megah di atas perbukitan dengan arsitektur khas bergaya Thailand. Wisatawan harus menapaki ratusan anak tangga untuk mencapai puncak kawasan wihara. Rasa lelah selama perjalanan akan terbayar dengan pemandangan spektakuler hamparan Pantai Loji yang membentang luas dari ketinggian.

Keunikan wihara ini tidak hanya terletak pada estetika bangunannya, tetapi juga pada kuatnya akulturasi budaya yang tercermin di dalam kompleksnya. Terdapat sejumlah altar yang didedikasikan untuk tokoh mitologi dan leluhur Nusantara, seperti Nyi Roro Kidul (Kanjeng Ratu Kidul) dan Prabu Siliwangi. Keberadaan altar-altar tersebut menjadikan Wihara Loji sebagai salah satu pusat wisata spiritual yang sarat nilai toleransi dan harmoni budaya, sekaligus turut mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sepanjang tahun.
Bagi masyarakat Desa Loji, laut bukan sekadar pemandangan, melainkan sumber kehidupan utama. Berbatasan langsung dengan kawasan Teluk Palabuhanratu, sektor kelautan dan perikanan tangkap menjadi urat nadi perekonomian warga setempat.
Mayoritas penduduk menggantungkan mata pencaharian sebagai nelayan. Setiap hari, perahu-perahu nelayan tradisional maupun modern bersandar membawa berbagai jenis ikan segar berkualitas tinggi hasil tangkapan dari Samudra Hindia. Potensi laut tersebut tidak hanya dipasarkan dalam kondisi segar ke berbagai wilayah di Sukabumi dan sekitarnya, tetapi juga mulai dikembangkan melalui sektor industri kreatif berbasis pengolahan hasil laut.
Produk olahan ikan yang dihasilkan masyarakat Loji kini menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke kawasan pesisir selatan Sukabumi.
Meski identik dengan budaya pesisir dan bahari, Desa Loji memiliki kontur wilayah yang beragam. Perpaduan antara dataran rendah di tepi pantai dan perbukitan hijau di bagian belakang desa menciptakan lanskap pertanian yang cukup potensial.

Kondisi geografis tersebut mendukung pengembangan sektor hortikultura. Berbagai tanaman palawija dan komoditas buah tropis dapat tumbuh dengan baik di wilayah ini. Meskipun sebagian lahan pertanian masih mengandalkan sistem tadah hujan, semangat para petani dalam memanfaatkan lahan yang tersedia menunjukkan besarnya potensi pertanian yang dapat terus dikembangkan melalui dukungan teknologi dan inovasi pertanian modern.
Dengan perpaduan antara potensi wisata religi yang ikonik, melimpahnya hasil laut, serta sektor pertanian yang menjanjikan, Desa Loji memiliki modal kuat untuk tumbuh menjadi kawasan ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan di pesisir selatan Jawa Barat.
Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus bersinergi dalam menata infrastruktur dan meningkatkan kualitas pelayanan guna memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Di saat yang sama, berbagai peluang kolaborasi juga terbuka bagi investor dan pelaku usaha yang ingin turut mengembangkan potensi Desa Loji.
Desa Loji bukan sekadar tempat singgah, melainkan gambaran harmoni kehidupan yang memadukan keindahan spiritual, berkah samudra, dan kesuburan bumi Pasundan dalam satu kawasan yang penuh potensi.
(MP)
