Sumenep – JAGAT BATARA. Narasi miring yang digulirkan pemilik APMS Sapeken, H. Ardi, melalui media pilarjatim terhadap aktivis kepulauan, Juhari, dinilai sebagai bentuk kecemasan yang berlebihan. Alih-alih menjawab substansi temuan lapangan terkait dugaan penyelewengan BBM, H. Ardi justru memilih menyerang pribadi (ad hominem) dengan tuduhan “pemerasan” dan label “LSM Lapar” yang tidak berdasar.
Menanggapi tudingan tersebut, Juhari menegaskan bahwa setiap informasi yang ia publikasikan bukanlah hasil fantasi atau asumsi belaka. Semua berita yang muncul didasarkan pada temuan riil di lapangan, keluhan masyarakat, serta bukti rekaman yang sudah terverifikasi.
“Saya bekerja sebagai kontrol sosial. Sebelum berita terbit, verifikasi data adalah prosedur wajib. Jika H. Ardi menyebut saya tidak melakukan konfirmasi, itu narasi ngawur! Bagaimana saya mau konfirmasi kalau nomor saya saja diblokir oleh beliau?” tegas Juhari.
Sikap memblokir nomor telepon ini, menurut Juhari, justru menjadi tanda tanya besar. Jika memang H. Ardi merasa benar dan tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus menutup pintu komunikasi? Bukankah saling mengingatkan adalah bagian dari ajaran yang harus dihormati?
Terkait tuduhan pemerasan yang dilemparkan H. Ardi secara berkali-kali, Juhari menantang balik pihak APMS untuk segera melapor ke Aparat Penegak Hukum (APH) jika memang memiliki bukti yang sah.
“Kalau memang saya memeras, kenapa diam? Kenapa tidak lapor polisi? Melempar fitnah melalui media sosial dan berita tanpa bukti adalah tindakan pengecut. Dengan menyebarkan tuduhan serius ini, berarti H. Ardi harus siap dengan konsekuensi hukum yang ada,” lanjutnya dengan nada bicara yang mantap.
Mengenai sentimen “asal daerah” yang dipermasalahkan H. Ardi di mana Juhari disebut orang luar Sapeken hal tersebut dinilai sebagai argumen lemah. Sebagai aktivis dan jurnalis, batas wilayah bukanlah penghalang untuk menyuarakan kebenaran, apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak seperti BBM bersubsidi.
“Masyarakat Sapeken berhak tahu kemana solar subsidi mereka mengalir. Saya memang tidak sehebat kalian dalam hal ‘menjilat’ demi memuaskan Bos. Saya mungkin dianggap lemah dan bisa diinjak, tapi kita lihat saja nanti. Kebenaran punya jalannya sendiri untuk terungkap,” pungkas Juhari.
Upaya menggandeng aparat desa untuk membantah temuan Juhari seringkali menjadi jurus klasik dalam meredam isu sensitif di kepulauan. Namun, bagi Juhari, keberpihakan pada rakyat kecil yang harus membeli solar dengan harga mahal adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan ketenangan semu yang dibangun atas dasar kebohongan.
Pertanyaan Masyarakat, apakah H. Ardi berani membuktikan tuduhannya di jalur hukum, ataukah ini hanya sekadar drama untuk menutupi borok distribusi BBM di wilayah Sapeken.
(Time)
